KORBAN LELAKI DATANGLAH KESINI

DARI TANGAN BIDAN
MUNCUL KEAJAIBAN
Home » » Konsep Tuhan dalam berbagai Agama

Konsep Tuhan dalam berbagai Agama

Written By ayunfarichah dianhusada on Kamis, 20 September 2012 | 02.44

Konsep Tuhan merupakan konsep yang sangat mendasar bagi setiap agama yang ada. Dari sinilah lahir konsep tentang manusia, kenabian, wahyu dan juga konsep-konsep yang lainnya.

Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al Ikhlas 1-4)
Konsep Tuhan merupakan konsep yang sangat mendasar bagi setiap agama yang ada. Dari sinilah lahir konsep tentang manusia, kenabian, wahyu dan juga konsep-konsep yang lainnya. Berikut merupakan hasil kajian dan diskusi ilmiah LDK STAIL, Kamis (13/01) 2010 tentang konsep Tuhan dalam Agama-agama, Filsafat dan Islam oleh pembicara Ust. Sohibul Anwar, M.H.I.


Konsep Tuhan dalam Agama Hindu tidaklah pasti. Mereka ada yang percaya pantheisme, monotheisme, politheisme, dan bahkan atheism. Kaum Hindu Bali biasa menyebut Tuhan mereka dengan panggilan “ Ida Sang Hyang Widhi Wasa” atau Brahman. Sedang panggilan Sang Hyang Widhi yang terkenal dengan sebutan “Timurti” yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa [ IB Suparta Ardhana, Sejarah Perkembangan Agama Hindu, (Denpasar: Paramita, 2002)] konsep Trimurti ini sama dengan konsep Trinitas yang mempercayai Tuhan itu tiga tapi satu.
Dalam Agama Budha Tuhan tidak bernama. Buddha tidak menyebutkan nama Tuhannya dengan sebutan tertentu. Tapi mereka mnyakini bahwa Tuhan itu Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa di dalam agama Buddha adalah Anatman (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. [Priastana, Be Buddhist Be Happy, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005)]
Pada Agama Yahudi, hingga kini, masih belum menemukan dan berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. Harold Bloom, dalam buku terkenalnya, Jesus and Yahweh, juga menulis, bahwa YHWH adalah nama Tuhan Israel yang tidak pernah bisa diketahui bagaimana mengucapkannya: “The fourletter YHWH is God’s proper name in the Hebrew Bible, where it appears some six thousand times. How the name was pronounced we never will know.” Sehingga setiap kali terdapat kata YHWH dalam Alkitab, orang Yahudi membacanya dengan kata Adonay (Tuhan) ”
Konsep Kristen tentang Tuhan juga beragam, nama Tuhan disesuaikan dengan tradisi dan budaya setempat. Di Timur Tengah, kaum Kristen menyebut "Alloh" sama dengan orang Islam; di Indonesia melafazkan nama Tuhannya menjadi "Allah"; dan di Barat kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan "God" atau "Lord".
Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya “Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim” (ITKSM) yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi "YAHWE"; kata"Yesus" diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah menjadi "Yesua Hamasiah".
Jika dikaji mendalam sebenarnya banyak kejanggalan konsep Tuhan dalam Kristen. Pertama, doktrin Kristen terhadap sain. Contohnya kasus Gali Galileo mengenai bumi itu pusat tata surya atau bukan. Kedua, konsep Trinitas yang membingungkan. Ketiga, permalahan siapakah Yesus itu apakah tuhan atau anak tuhan.
Konsepsi Tuhan menurut filsafat banyak dipengaruhi pemikiran Ariestoteles yang berpendapat “Saya berfikir maka saya ada”. Saya berfikir Tuhan itu ada maka Tuhan itu ada Jadi jika saya tidak berfikir maka saya tidak ada dan jika saya berfikir tuhan itu tidak ada maka tuhan tidak ada. Ini adalah pemikiran yang rancu. Apakah ketika saya berfikir di samping ada donat maka secara nyata aka nada donat.
Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah'الله dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah. Dengandemikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT, melalui al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.
Allah adalah nama diri (propoer name) yang dipergunakan untuk memperkenalkan dirinya kepada makhluknya. Walaupun nama ”Allah” sudah digunakan oleh musyrik Arab maupun kaum Kristen. Bahkan baru-baru ini di Malaysia terjadi perdebata yang sengit mengenai boleh tidaknya penggunaan Nama Allah bagi Kristen. Bagi mereka Allah adalah salah satu tuhan dari sekian Tuhan yang ada bagi mereka
Allah dalam Islam sudah dibersihkan konsepnya dari unsur-unsur syirik, seperti dipahami oleh kaum Kristen dan musyrik Arab. Bukan salah satu tuhan di antara tuhantuhab yang ada. Karena itu, bisa dipahami, untuk mengenal Allah secara murni (tauhid), maka tidak bisa tidak harus mengakui kenabian Muhammad saw. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah terakhir, yang bertugas menjelaskan siapa Allah, nama dan sifat-saifat-Nya,dan cara untuk beribadah kepadaNya.
Terlebih konsepsi Islam tentang Tuhan, mempunyai tiga dimensi tauhid. Pertama, Tauhid Rububiyah yang mengakui adanya pencipta alam semesta dan iman kepada takdir Allah, kedua, tauhid Uluhiyah yang harus tunduk taat beribadah hanya kepada Allah saja dengan Ikhlas dan ittiba kepada Rasul. dan tauhid Asma wa Sifat yang menyakini bahwa Allah mempunyai nama dan sifat yang layak baginya (istbat) dan menolak nama-nama yang tidak sesuai dengan Allah (nafyu). Sehingga dalam menyembah kepada tuhan tidak sekedar diimani sebagai rurubiyah saja melainkan dengan tiga dimensi tadi.
*Penulis adalah Anggota Kesatuan Mandiri Syabab Hidayatullah STAIL Surabaya

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Translate

Kampus Dian Husada

Stikes Dian Husada

Rumah Sakit Dian Husada

Stikes Dian Husada

Google+ Badge

Google+ Followers

Pengikut

@ayunfarichah. Diberdayakan oleh Blogger.